Baru saja selesai membaca kajian soal kemananan pasokan batubara yang dilakukan oleh CEPS dan PE-UI tahun 2008. Hasil dari analisa kajian secara ringkas adalah sebagai berikut :
Pemerintah telah mencanangkan pambangunan PLTU batubara dengan total kapasitas 10 ribu MW yang alokasinya tersebar di seluruh tanah air. Aspek pendanaan pembangunannya sudah merupakan tantangan tersendiri, dan setelah beroperasi nantinya salah satu hal yang sangant pentinga adalah tersedianya batubara low-rank (mutu rendah/nilai kalor rendah) sebagai bahan bakar. Studi keamanan pasokan batubara low-rank ini berguna untuk mengetahui keamanan pasokan batubara untuk pembangkit-pembangkit yang berada di Pulau Jawa yang dapat digunakan sebagai dasar sekenario kebijakan yang akan dibuat.
Keamanan pasokan ini dapat dilihat dari beberapa parameter antara lain :
- Terpenuhinya jumlah batubara yang dibutuhkan oleh setiap pembangkit. Setiap pembangkit di Pulau Jawa akan disuplay oleh 4 perusahaan pemasok batubara (Arutmin, Bara Mutiara Prima, Senamas Energindo Mulia, Titan Mining Energy). Apabila ke-4 perusahaan ini mampu memenuhi kebutuhan batubara setiap tahunnya (sekitar 54,49 ton pada saat seluruh pembangkit sudah beroperasi), maka dapat dikatakan bahwa ketersediaan batubara aman pada saat itu. Hal ini juga dapat dilihat dari hasil produksi tahunan ke-4 perusahaan tersebut. Jika jumlah total produksi lebih besar daripada jumlah kebutuhan, maka pasokan dikatakan aman.
- Tersedianya infrastruktur untuk mentransformasikan batubara dari tambang ke pembangkit. Infrastruktur menjadi salah satu komponen yang penting dalam menjamin pasokan batubara. Contoh, jika barge pengangkut batubara banyak dan tidak ada gangguan dalam pengiriman batubara dari tambang ke pembangkit, maka dapat dikatakan bahwa pasokan batubara aman. Selain barge untuk mengangkut batubara, infrastruktur pelabuhan dan jetty yang baik akan menunjang terjaminnya keamanan pasokan batubara.
- Tersedianya Batubara di dalam stockpile. Kebutuhan batubara minimum didefinisikan sebagai kebutuhan batubara selama 16 hari. 14-16 hari merupakan batasan penyimpanan batubara paling lama karena jika melewati waktu itu maka batubara low rank dapat mengalami self ignation atau terbakar dengan sendirinya. Nah oleh karena itu, ketersediaan batubara dalam stockpile juga harus dimanajemen dengan baik. Pengisian stockpile dilakukan dengan cara mendatangkan kapal atau barge dari tambang. Jumlah trip kapal dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
- Lamanya penundaan transportasi atau pengiriman batubara. Lamanya penundaan pengiriman batubara dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti laju produksi batubara yang terganggu, sedang terjadi arus laut yang tidak memungkinkan untuk berlayar, atau kerusakan barge maupun kapal pengankut batubara. Karena ketersediaan batubara dalam stockpile hanya mencukupi untuk 16 hari, maka sebaiknya keterlambatan dan penundaan pengiriman batubara tidak boleh lebih dari 16 hari. Jika terjadi penundaan jadwal pengiriman atau keterlambatan lebih dari 16 hari, maka batubara yang ada pada stockpile tidak mencukupi untuk operasi sehingga terjadi pemadaman PLTU.
Komentar
Posting Komentar